Sabtu, 21 Juni 2014

Studi Kasus Bidang Peternakan "Impor Bahan Pakan Ternak AS, Dibuka Kembali"


Dalam Studi Kasus di Bidang Peternakan saya mengambil artikel berjudul "Impor Bahan Pakan Ternak AS, Dinuka Kembali". Sumber dari artikel ini adalah TEMPO.CO , artikel ini di posting pada hari Selasa, 24 Juli 2012 pukul 16:01 WIB. Berikut isi dari artikel tersebut :
 
Selasa, 24 Juli 2012 | 16:01 WIB

Impor Bahan Pakan Ternak AS, Dibuka Kembali

Pakan Ternak. Tempo/ Fahmi Ali

TEMPO.CO, Jakarta - Kementerian Pertanian membuka kembali impor Meat Bone Meal atau bahan baku pakan ternak dari Amerika Serikat. Hal itu dilakukan karena penyakit sapi gila (Bovine Spongiform Enchepalopathy) di negara tersebut sudah bisa dikendalikan. Tapi, impor produk ternak lain, seperti daging dan jeroan, dari AS masih dilarang.
Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, Syukur Iwantoro, mengatakan pemerintah sudah menyampaikan kebijakan pembukaan impor tersebut kepada pengusaha dan pemerintah Amerika Serikat sejak 5 Juli lalu. "Sejak saat itu impor sudah bisa dilakukan," kata Syukur di Jakarta, Selasa, 24 Juli 2012..
Syukur mengatakan pembukaan impor harus memenuhi sejumlah syarat yang ketat. Indonesia mengajukan persyaratan ketat kepada Amerika, yakni bahan baku pakan ternak harus berasal dari industri yang terintegrasi dengan rumah potong hewan. Jika tidak, industri tersebut harus mendapat persetujuan dari pemerintah Indonesia. Produk yang diekspor ke Indonesia berasal dari anak sapi yang umurnya tidak lebih dari 30 bulan.
“Pemerintah Amerika belum memberikan jawaban. Tapi jawaban tidak resmi kami dapatkan dari swasta, bahwa mereka tidak masalah memenuhi itu,” ujarnya.
MBM merupakan bahan baku industri pakan ternak. Komposisi MBM dalam pakan ternak hanya 5 persen, atau hanya sebagai sumber protein. Selama ini impor MBM berasal dari Australia, Selandia Baru, Kanada, dan Amerika Serikat. Selain MBM, industri pakan ternak juga menggunakan Poultry Meat Meal (PMM).
Walaupun keran impor MBM sudah dibuka kembali, produk daging dengan tulang dan jeroan masih tertutup. Pemerintah masih melakukan analisa risiko yang memerlukan waktu agak lama.
Kementerian Pertanian khawatir harga bungkil kedelai sebagai bahan baku pakan ternak akan melonjak. Pasalnya pasokannya hanya dari Amerika. Sedangkan bahan baku pakan ternak dari jagung masih bisa didapat dari India, Cina, atau Argentina.
ROSALINA

sumber : http://www.tempo.co/read/news/2012/07/24/090419013/Impor-Bahan-Pakan-Ternak-AS-Dibuka-Kembali

KOMENTAR :
Sebagai mahasiswa fakultas peternakan setelah membaca artikel tersebut ada rasa senang dan rasa kekecewaan terhadap peternakan di Indonesia. Impor bahan pakan ternak AS dibuka kembali itu menandakan hubungan antara Indonesia dan AS di bidang peternakan berjalan lagi. Impor bahan baku pakan ternak sepat ditutup karena maraknya penyakit sapi gila pada sapi pada tahun itu, dan akhirnya dibuka kembali setelah penyakit sapi gila sudah dapat ditangani di negara tersebut.

Rasa kekecewaan itu muncul karena kurang terlihatnya kemandirian bangsa Indonesia terlebih para peternak Indonesia dalam membuat bahan pakan ternak sendiri, sehingga bahan pakan ternak tidak hanya bergantung dengan impor saja. Dengan adanya kemandirian membuat bahan baku pakan sendiri, peternakan di Indonesia saya rasa akan lebih maju, karena kita mengetahui apa saja yang dibutuhkan oleh ternak kita sehingga hasil produksi ternak dan kualitas yang dihasilkan ternak dapat meningkat.

Tidak hanya dalam hal bahan baku pakan ternak saja yang harus mandiri, tetapi produksi ternak pun juga harus mandiri, sehingga impor daging di Indonesia semakin berkurang. 
Jaya Peternakan Indonesia !!!

Eugenia Helena Putri W.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar